ME, I 'N' MY SELF ^__^

Rabu, 24 Juni 2009

Laporan Praktek Manajemen Budidaya Perairan Payau

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dunia perikanan merupakan dunia yang kaya akan sumberdaya hayati, dimana begitu banyak komoditi yang menjamin kita untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomis di dalamnya, salah satu kegiatan tersebut adalah kegiatan usaha budidaya. Adapun usaha budidaya dalam bidang perikanan tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu usaha budidaya perairan laut, budidaya perairan payau dan budidaya perairan tawar. Ketiga usaha budidaya tersebut masing-masing telah berkembang pesat pada masyarakat indonesia saat ini pada umumnya dan masyarakat sulawesi tengah pada khususnya.

Khusus untuk budidaya perairan payau, ramai digalakkan oleh masyarakat saat ini adalah budidaya bandeng dan udang di tambak. Adapun pengertian dari daerah payau itu sendiri adalah merupakan daerah daratan pantai dengan genangan-genangan air, campuran air asin dan air tawar dan biasanya merupakan daerah supralitoral.

Tekhnisnya untuk tambak itu sendiri sudah dikenal sejak abad ke-14 dan lazim digunakan sebagai wadah pemeliharaan ikan bandeng dan udang, namun tidak banyak mengalami perubahan dalam hal konstruksi dan rancang bangun. Dalam hal ini tambak dapat dibuat dengan konstruksi yang sederhana dan murah, tetapi kuantitas maupun kualitas produksinya cenderung rendah.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, maka melalui laporan ini akan dibahas lebih lanjut mengenai usaha budidaya tambak yang dilakukan oleh masyarakat di daerah Tolongano, Sulawesi Tengah.

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktek mata kuliah “Manajemen Budidaya Perairan Payau” ini adalah untuk mengetahui apakah pertambakan di desa tolongano berpotensi untuk diusahakan atau tidak.

Kegunaan dari praktek tersebut adalah sebagai bahan masukan dan pengetahuan kita tentang prospek budidaya tambak saat ini, serta dapat membandingkan materi yang diperoleh di perkuliahan dengan praktek di lapangan.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kriteria dan Konstruksi tambak

Suyanto & Mudjiman (1981), menyatakan bahwa ada beberapa kriteria lahan untuk dijadikan pertambakan yaitu sebagai berikut :

- Terdiri dari beberapa petakan tambak untuk berproduksi.

- Terdapat saluran-saluran suplai air.

- Adanya suplai air tawar dari sungai atau dari sumur pompa yang memadai.

- Pemasukan air asin dari laut yang mencukupi kebutuhan.

- Terdapat kolam pengendapan air, bila air keruh.

- Terdapat tempat untuk mendirikan gudang, rumah jaga, rumah untuk tekhnisi, unit rumah pompa, generator listrik dan kendaraan.

Untuk mencegah akumulasi patogen dalam petakan tambak, saluran air yang masuk dan keluar harus dipisahkan. Tinggi dasar saluran air masuk lebih rendah daripada dasar tambak untuk mengurangi pelumpuran dalam petak. Hal tersebut sebagai upaya mempermudah pembagian air ke dalam petak, saluran air masuk dapat difungsikan sebagai tandon dengan cara mengatur bukaan pintu air utama (Ahmad, Ratnawati & Yakob, 1998).

Tanah yang ideal buat tambak ialah tanah yang bertekstur liat atau liat berpasir karena jenis tanah tersebut dapat menahan air. Tanah dengan tekstur tersebut mudah diperoleh dan tidak pecah-pecah di musim panas. Pembangunan pematang dengan tanah yang mengandung tanaman yang belum membusuk harus dihindari, karena tanggul itu akan menyusut dan banyak kebocoran (Buwono, 1992).

Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan, termasuk bandeng adalah luas ruang (Soeseno, 1983). Lebih lanjut dikatakan, bahwa dalam ruang yang lebih luas, dengan asumsi semua faktor lain yang berpengaruh adalah sama, ikan tumbuh lebih cepat daripada dalam ruang yang lebih sempit.

2.2 Kualitas Air tambak

(Ahmad, Ratnawati & Yakob, 1992) menyatakan bahwa air untuk pengairan tambak udang dapat diperoleh langsung dari laut yang kadar garamnya berkisar antara 30 ‰. Bisa juga diambil dari air sungai yang sudah mendekati muara dengan sifat payau. Kadar garam air ini kurang dari 30 ‰.

Semua organisme hidup dalam air peka terhadap perubahan temperatur yang tinggi (lebih dari 5oC) dan yang datang secara tiba-tiba, dan dapat mengakibatkan stress bahakan kematian (Brotowidjoyo, 1995). Lebih lanjut dikatakan bahwa temperatur yang berubah-ubah secara mendadak mempengaruhi proses kimia air, distribusi oksigen dan distribusi pakan. Temperatur yang dikehndaki untuk organisme budidaya tambak tersebut adalah 27-32oC.

Air tambak harus jernih, dalam artian tidak terlalu banyak mengandung suspensi bahan padat. Karena air jernih ini menjamin cahaya matahari mencapai dasar tambak dan produktivitas primer tinggi (fotosintesis maksimal, fitoplankton tumbuh baik). Air yang keruh dapat menyulitkan pernafasan dari organisme yang dipelihara, sebab suspensi dapat menyumbat saluran pernapasan. Oleh karena itu suplai air keruh perlu diendapkan lebih dulu sebelum masuk ke dalam tambak (Afrianto & Liviawaty, 1991).

(Brotowidjoyo, 1995), proses pembusukan sangat banyak memerlukan oksigen, terlalu banyak sisa pakan dan bahan organis lainnya menyebabkan kandungan oksigen rendah. Adapun kandungan oksigen yang baik adalah 4-8 mg/l. Jika kandungan oksigen rendah dapat diatasi dengan membuang sebagian air tambak dan menggantinya dengan air suplai. Selain itu, kisaran pH yang dikehendaki untuk tambak adalah 7,5-8,5. Apabila di luar batas dapat diatasi dengan pemupukan dengan gips.

2.3 Pemeliharaan organisme (bandeng dan udang)

Pemupukan pada usaha budidaya ikan walaupun ditujukan pada peningkatan produksi ikan, tetapi ikan sendiri tidak dapat memanfaatkan pupuk secara langsung. Pupuk yang ditambahkan akan digunakan fitoplankton untuk tumbuh sebagai pakan dasar rantai makanan dalam tambak. Jenis ikan herbivora, dalam hal ini bandeng memanfaatkan fitoplankton tersebut, sedangkan ikan karnivora memakan ikan hebivora karen atidak dapat memanfaatkan fitoplankton tersebut (Suyanto & Mudjiman, 1981).

Salah satu sumber kemasaman air tambak adalah tanah dasar. Kapur dapat digunakan untuk memperbaiki pH tanah secara praktis, aman dan murah (Buwono, 1992). Selanjutnya, dikatakan bahwa tanah dasar kolam yang mengandung pirit memerlukan jumlah kapur yang lebih banyak dibandingkan tanah yang tidak mengandung pirit. Oleh karena itu, tanah yang mengandung pirit sebelum dikapuri harus melewati reklamasi terlebih dahulu.

(Soeseno, 1983), menyatakan bahwa tambak tradisional hanya mengandalkan jenis pakan alami yang terdapat dalam tambak, yaitu berupa klekap (campuran berbagai organisme), plankton dan lumut-lumut, bahkan detritus (kotoran dan bahan-bahan yang membusuk di dalam air dan dasar tambak.

Ikan maupun udang yang hidup dalam kondisi air yang jelek dapat mengalami tekanan (stress) sehingga mudah terjangkit oleh parasit maupun penyakit. Perkembangan parasit dan penyakit dipacu seiring dengan memburuknya kualitas lingkungan perairan. Bahan organik yang berasal dari sisa pakan dan kotoran ikan merupakan media yang cocok bagi perkembangan parasit dan bakteri (Afrianto & Liviawaty, 1991).

Dalam mengusahakan tambak, sering kali kita akan menghadapi gangguan hama (Suyanto & Mudjiman, 1981). Lebih lanjut dinyatakan bahwa hama tambak tersebut dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu golongan pemangsa atau predator (ikan-ikan buas, kepiting, kerang-kerangan, bangsa burung, bangsa ular, dan wlingsang), golongan penyaing atau kompetitor (bangsa siput, ikan liar seperti mujair, ketam-ketaman dan udang-udnag kecil), dan golongan pengganggu (bangsa ketam-ketaman, udang tanah hewan-hewan penggerek dan tritip).


III METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat

Praktek mata kuliah “Manajemen Budidaya Perairan Payau” ini dilakasanakan pada hari senin, tanggal 8 Januari 2007. Praktek dilaksanakan pada pukul 10.00 Wita sampai selesai, dan bertempat di Desa Tolongano, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, Sulawesi tengah.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktek ini adalah termometer, refractometer, dan alat tulis menulis. Sedangkan bahan yang digunakan pada praktek ini adalah air, questioner.

3.3 Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja dari praktek ini terbagi menjadi dua yaitu :

- Pengukuran terhadap kualitas air tambak

Untuk mengukur suhu (temperatur), yaitu termometer dicelupkan ke dalam air tambak selama ± 2 menit, kemudian diangkat dan melihat kisaran suhu yang terbaca di alat tersebut. Sedangkan untuk salinitasnya, pertama-tama ambil air tambak dengan sedotan kemudian teteskan ke alat refractometer, lalu lihat berapa kisaran salinitas yang terbaca di alat tersebut. Setelah itu, hasil pengukurannya dicatat.

- Wawancara terhadap petambak

Mewawancarai narasumber yang dalam hal ini petani tambak melalui questioner yang telah disiapkan.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan dari praktek yang telah dilaksanakan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 1. hasil pengukuran kualitas air tambak

Petakan tambak

Suhu (0C)

Salinitas (ppt)

I

29

31

II

29,5

30

III

30

32

IV

32

25

Tabel 2. Hasil wawancara kepada petani tambak

Narasumber

Pak Lukman

Organisme yang dibudidaya

Bandeng (Chanos chanos) dan Udang Windu (Penaeus monodon)

Luas/petak tambak

2 ha

Kedalaman tambak

<>

Substrat tanah

Lumpur berpasir

Jumlah organisme dalam tiap petak tambak

- Bandeng 5000 ekor

- Udang 4000 ekor

Harga bibit

- Bandeng Rp. 30-40/ekor

- Udang Rp. 40/ekor

Sumber air

laut dan air tawar dari muara, pergantian air dilakukan 2 kali dalam sebulan

Pintu air masuk dan keluar

Hanya 1 buah, menggunakan penyaring berupa jaring dengan maksud agar ikan-ikan dari sumber air tidak masuk

Hama dan penyakit

Hama yang menyerang yaitu burung bangau dan kerang-kerangan, sedangkan untuk penyakit dipastikan bandeng dan udang tersebut tidak terserang penyakit

Pakan

Hanya mengandalkan pakan alami berupa lumut dan klekap

Perlakuan

Sebelum pemeliharaan dilakukan, tanah dasar tambak dikeringkan, kemudian dilakukan pemupukan dengan jenis pupuk urea, dan takarannya 450 kg (3 sak)/petak selama ± 2 hari

Pemanenan

Untuk hasil panen pertama pada tiap petak tambak berkisar 70 %

4.2 Pembahasan

Budidaya tambak baik untuk pemeliharaan ikan bandeng maupun udang di indonesia sangatlah luas, terdapat ± 200.000 ha yang dimiliki dan diusahakan oleh petani, namun kebanyakan masih bersifat tradisional. Sejak beberapa tahun terakhir ini, tekhnik intensifikasi tambak telah dikenal secara luas. Namun karena kemampuan permodalan sebagai masukan untuk inovasi dan tingkat keterampilan petani tambak tidak sama, maka perkembangan tekhnik pertambakan yang diterapkan saat ini pun berbeda-beda tingkatannya. Ada tambak yang masih secara sederhana, dengan hasilnya yang masih rendah. Adapula tambak yang telah diusahakan secara intensif dengan masukan modal yang tinggi dan hasilnya pun tinggi.

Berdasarkan hasil yang telah diperoleh di lapangan, dapat dilihat bahwa metode yang digunakan dalam usaha tambak tersebut bersifat tradisional plus. Hal ini dapat dilihat dari luas petakan tambak dan kedalaman tambak tersebut. Di mana, untuk tambak tradisional plus luas petakan tambaknya sudah mulai diatur dengan ukuran 0,25-2 ha, sedangkan untuk memudahkan pengontrolan sebaiknya tambak memiliki luas 0,25-0,5 ha/petak, dan ini biasanya terdapat pada tambak intensif. Selain dilihat dari luas petakan, dapat juga dilihat dari kedalaman tambak tersebut yakni kedalamannya kurang dari 1 m, sedangkan kedalaman tambak yang ideal adalah 1,25-1,5 m atau lebih.

Adapun untuk tanah dasar tambaknya lumpur berpasir. Tekstur tanah demikian kurang baik untuk pemeliharaan bandeng dan udang, adapun substrat tanah yang baik untuk tambak adalah dari jenis tanah liat berpasir. Hal demikian sesuai dengan pernyataan dari (Buwono, 1992), di mana tanah dengan tekstur tersebut mudah menahan air dan tidak pecah-pecah bila musim panas tiba.

Yang paling penting dalam usaha budidaya adalah meninjau tentang pengairannya. Air yang diperoleh bisa air payau atau air laut murni asal jumlahnya cukup untuk mengganti air tambak setiap waktu diperlukan. Air tersebut harus bebas dari pencemaran yang bersifat racun, seperti sisa-sisa pestisida, limbah industri, dsb. Apabila air tersebut kotor atau keruh karena suspensi lumpur atau kotoran bahan organik limbah rumah tangga, maka dapat dibersihkan dengan cara penyaringan dan pengendapan.

Namun, lebih idealnya lagi apabila di suatu pertambakan dapat diperoleh suplai air laut yang bersih dan juga suplai air tawar yang jernih. Di mana, air tawar ini juga harus bebas dari pencemaran yang dapat membahayakan organisme peliharaan. Di lapangan, sumber air yang diperoleh untuk pertambakan tersebut berasal dari laut dan muara sungai. Adapun untuk pergantian air yang dilakukan di tambak tersebut minimal 2 kali dilakukan dalam sebulan.

Berbicara tentang sumber air, erat hubungannya dengan kualitas air. Dalam hal ini yang termasuk di dalamnya adalah suhu, salinitas, pH dan oksigen terlarut. Namun, pada praktek yang dilakukan pengukuran kualitas air hanya dilakukan pada suhu dan salinitasnya saja. Adapun kisaran salinitas yang diukur pada tiap petak tambak tersebut berada pada kisaran 25‰-32‰, hal demikian sesuai dengan pernyataan dari (Ahmad, Ratnawati & Yakob, 1992), di mana dikatakan bahwa air untuk pengairan tambak dapat diperoleh langsung dari laut yang salinitasnya berkisar antara 30‰-36‰.

Adapun untuk suhu air yang terdapat di lapangan berkisar antara 290C-320C. Kisaran tersebut sesuai dengan pernyataan dari (Brotowidjoyo, 1995), yang menyatakan bahwa suhu yang dikehendaki untuk organisme budidaya tambak adalah 270C-320C. Suhu air sangat berkaitan erat dengan konsentrasi oksigen terlarut dalam air dan laju konsumsi oksigen hewan air. Meskipun di lapangan tidak dilakukan pengukuran terhadap oksigen terlarut tersebut, namun perlu diketahui kisaran oksigen terlarut yang biasanya bagi pertambakan adalah 4-8 mg/ltr. Selain oksigen terlarut, perlu juga diketahui pH air yang ideal bagi pertambakan yaitu 7,5-8,5 (Brotowidjoyo, 1995).

Salah satu ciri dari tambak tradisional plus adalah sudah memiliki 2 buah pintu air masuk dan keluar secara terpisah, namun yang terdapat di lapangan hanya memiliki satu buah pintu air saja baik pintu air masuk maupun keluar. Di mana pada pintu air tersebut dipasang saringan berupa jaring dengan tujuan agar ikan-ikan yang berasal dari sumber air tersebut tidak ikut masuk ke tambak. Terdapatnya satu buah pintu air sangat tidak efisien untuk suatu usaha pertambakan, mengapa demikian karena untuk mencegah akumulasi patogen yang terjadi dalam petakan tambak, maka saluran air yang masuk dan keluar harus dipisahkan, demikian pernyataan dari Ahmad, Ratnawati & Yakob (1998).

Setelah kita mengetahui tentang pengairan dari tambak, maka kita juga perlu mengetahui tentang perlakuan selanjutnya sebelum bandeng dan udang di masukan ke tambak. Adapun yang dilakukan yaitu tanah dasar tambak dikeringkan terlebih dahulu, setelah itu dipupuk dengan menggunakan pupuk urea sebanyak 450 kg atau 3 sak/petaknya selama ± 2 hari. Setelah itu, barulah bibit dari bandeng dan udang tersebut di tebar ke dalam tambak. Adapun padat penebaran untuk tiap petak yaitu 5000 ekor untuk bandeng dan 4000 ekor untuk udang. Tingkatan padat penebaran tersebut masih begitu rendah.

Untuk pemberian pakannya tidaklah sulit, karena di tambak tersebut pakan yang diberikan hanya mengandalkan pakan alami yaitu berupa lumut dan klekap, sedangkan untuk pemberian pakan buatan tidak dilakukan. Meskipun sebenarnya untuk metode tradisional plus ini pemberian pakan buatan sudah harus dilakukan, namun kenyataan di lapangan hanya pakan alami saja yang diberikan. Pemberian pakan alami saja merupakan ciri dari metode tradisional, sebagaimana yang dinyatakan oleh Soeseno (1983) bahwa tambak tradisional hanya mengandalkan jenis pakan alami yang terdapat dalam tambak, yaitu berupa klekap (campuran berbagai organisme), plankton dan lumut-lumut, bahkan detritus (kotoran dan bahan-bahan yang membusuk di dalam air dan dasar tambak.

Selain pemberian pakan, pengontrolan terhadap hama dan penyakit juga perlu dilakukan agar organisme peliharaan kita dapat tumbuh dengan baik. Di lokasi tambak tersebut, dinyatakan oleh petani tambak itu bahwa udang dan bandeng yang dipelihara tidak terkena penyakit, hanya di tambak tersebut terdapat hama berupa burung bangau dan kerang-kerangan. Demikian halnya pernyataan dari (Suyanto & Mudjiman, 1981), bahwa golongan hama terbagi menjadi tiga yaitu predator, kompetitor dan pengganggu. Burung dan kerang-kerangan tersebut termasuk ke dalam hama predator. Untuk memberantas hama-hama tersebut dapat digunakan bahan beracun seperti pestisida.

Setelah 3-4 bulan masa pemeliharaan, maka udang dan bandeng tersebut sudah dapat dipanen, pada lokasi tambak tersebut panen pada tahap pertama diperoleh hasil sekitar 70 %. Melihat dari keadaan lokasi tambak di desa tolongano tersebut, sebenarnya lokasi tambak tersebut layak untuk diusahakan hanya saja yang perlu ditingkatkan adalah pengontrolan dan manajemennya, serta pengetahuan dari pengolah tambak.

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1). Metode tambak yang digunakan di Desa Tolongano tersebut adalah metode tradisional plus.

2). Hanya terdapat satu buah pintu air keluar dan masuk.

3). Pakan yang diberikan hanya mengandalkan pakan dari alam yaitu berupa lumut dan klekap.

4). Kualitas air yang diukur baik suhu maupun salinitas berada pada kisaran yang dikehendaki untuk usaha pertambakan.

5). Tambak di desa tolongano tersebut layak untuk diusahakan, namun diperlukan peningkatan pengongtrolan dan pengetahuan dalam hal pengolahan tambak.

5.2 Saran

Saran kami sebagai praktikan adalah sebaiknya pada praktek-praktek selanjutnya semua kualitas air dapat diukur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar